Arti Pralambang “GUNUNGAN” dalam wayang Kulit

Untitled Document

ARTI PRALAMBANG "GUNUNGAN" DALAM WAYANG KULIT

ddd

Oleh : Nurul Hilal Ayyidar, S.Pd

Siapa yang tak kenal wayang, hampir 100 persen manusia indonesia bahkan sampai mancanegara dan dunia pun mengenal wayang. Salah satu khazanah kekayaan kebudayaan dari negeri Indonesia. Selain sebagai tontonan, wayang juga mencakup tuntunan yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan. Wayang terdiri dari banyak bagian dan tokoh pewayangan, dan salah satu bagiannya adalah gunungan. Gunungan, adalah salah satu bagian dari wayang yang bentuknya seperti gunung. Di bagian bawah terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa memegang pedang dan perisai, bagian ini sebagai perumpamaan pintu gerbang istana, Sebelah atas terdapat gambar pohon kayu yang dibelit oleh seekor ular besar dan gambar segala binatang hutan, gambar ini merupakan perumpamaan situasi atau keadaan dalam hutan. Menurut riwayat, gunungan adalah sebagai lambang keadaan dunia dan isinya. Sebelum wayang dimainkan, gunungan dicacak di tengah-tengah kelir (layar wayang) agak cenderung ke kanan yang mempunyai arti bahwa lakon wayang belum dimulai. Setelah wayang mulai dimainkan, gunungan dicabut dari cacakan dan dicacakan pula dibagian kanan.
Gunungan itu dipakai juga sebagai tanda akan mengganti cerita. yaitu dengan cara dicacakkan di tengah-tengah. Selain itu gunungan juga dipakai sebagai perumpamaan angin, yaitu ketika digerakkan dengan gerakan cepat. Selain itu, gunungan juga diumpamakan sebagai api, yaitu digerakkan juga seperti angin, akan tetapi gunungan tersebut dibalik, dibalik gunungan tersebut hanya berwarna merah, di sini merupakan perumpamaan api, tetapi warna tersebut hanya dapat dilihat dari depan kelir.
Selain sebagai api, juga sebagai perumpamaan hutan rimba, yaitu ketika dimainkan pada waktu perampogan (semua kumpulan wayang dari tentara segala persenjataan dan segala macam persenjataan prajurit).

Dalam adegan ini perampogan diucapkan oleh dalang diibaratkan percakapan seseorang dengan orang lain. Percakapan prajurit tersebut mengenai jalan yang rusak, tidak rata, selain itu jalan tersebut penuh pepohonan serta penuh dengan semak belukar. Maka ditempuhlah jalan tersebut dengan menebang pohon-pohon kayu dan tempat itu didijadikan sebagai jalan lewat perajurit. Gunuganlah yang ditempuh oleh perampogan yang diibaratkan hutan itu. Setelah lakon dimainkan, gunungan dicacakkan kembali di tengah kelir, menandakan bahwa cerita telah tamat.
Tanda gunungan sebagai pengganti cerita atau babakan, setelah gunungan dicacakkan ditengah, kemudian dalang bercerita dengan singkat, lakon cerita yang baru saja diceritakan, kemudian disambung dengan lakon cerita atau babakan yang akan dimulai. Dengan cara tersebut diharapkan penonton terhibur dan terbuai dalam lakon cerita yang dibawakan oleh dalang.

Sumber Pustaka : Sebuah Kumpulan "PUSPA SARI" yang disusun F.X. Koesno 1981

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s