KISAH CINTA NAWANGSIH DAN RINANGKU

Nawangsih adalah salah secrang putri Sunan Muria yang terkenal cantik di tengah gadis-gadis pesantren. Wajarlah jika gadis itu didambakan dan dirindukan sebagai calon istri oleh banyak santri lelaki yang belajar di pesantren Sunan Muria. Hal itu diketahui juga oleh Sunan Muria walaupun tak pernah diungkapkan secara terbuka.

Sebagai seorang ayah, tentulah Sunan Muria mengharapkan seorang menantu yang simpatik dari kelak dapat dipercaya tanggung jawabnya terhadap keluarga. Namun, sebagai seorang guru atau kyai di pesantren yang banyak muridnya, Sunan Muria cencerung menaruh perhatian kepada santri yang pandai-pandai. Di antara mereka itu tersebutlah seorang santri dari daerah Pati, nama panggilannya Cebolek. Dipanggil demikian karena tubuhnya cebol (pendek) sehingga penampilannya tidak tampan (elek).

Pada suatu saat, pernah Sunan Muria menyebut­nyebut nama itu sebagai calon suami Nawangsih. Akan tetapi, sang gadis merasa sedih karena mengaku tidak mencintainya. Di pihak lain, secara diam-diam Cebolek telanjur menaruh hati.

Walaupun sudah cukup lama Cebolek mencari-cari jalan yang terbaik untuk berhubungan dengan Nawangsih, belum juga berhasil karena sang gadis itu selalu menghindari kemungkinan bertemu dengan pemuda santri itu. Gelagat atau pertanda kegagalan itu semakin kentara setelah hadirnya seorang santri bare yang bernama Rinangku, salah seorang anak Ki Pandanaran yang berkuasa di Semarang. Dalam waktu yang singkat, Rinangku yang tampan dan kaya itu sudah berhasil mendekati Nawangsih sehingga Cebolek merasa tersisih. Akibatnya, timbul iri dengki di lubuk hati Cebolek dan akhirnya berkembang niat hendak mencelakakan Rinangku.

Kebetulan, waktu itu muncul kerusuhan dari ulah para perampok di sebelah barat Gunung Muria. Banyak penduduk desa yang mengungsi ke pesantren sehingga Sunan Muria memerintahkan santri-santrinya untuk menumpas kaum perampok. Pada saat itulah Cebolek merasa mendapatkan kesempatan yang tepat untuk menjatuhkan wibawa Rinangku.

“Bapak Guru, sesungguhnya kami sudah lama berbakti dan mengabdi di pesantren ini, sedangkan Rinangku belum kelihatan baktinya. Oleh karena itu, berikanlah tugas menumpas perampok itu kepadanya, supaya dia pun teruji kepandaiannya.”

Permohonan Cebolek itu dianggap wajar oleh Sunan Muria, dan segeralah tugas itu dipercayakan kepada Rinangku. Sebenarnya, Cebolek justru menginginkan tewasnya Rinangku di tangan para perampok. Akan tetapi, tidak lama kemudian Rinangku kembali membawa kemenangan. Bahkan, sanggup mengajak beberapa orang perampok untuk bertobat dan berguru kepada Sunan Muria. Keberhasilan itu semakin membesarkan simpati Nawangsih terhadap Rinangku.

Cebolek yang merasa semakin tersisih lantas menyebar fitnah. Kepada para santri dikabarkan bahwa Rinangku pernah secara sembunyi-sembunyi memasuki kamar Nawangsih sehingga perlu dijebak agar tertangkap basah. Tindakan seperti itu jelas melanggar adat kesopanan dan akan merusak wibawa kaum santri. Kabar itu akhirnya terdengar juga oleh Sunan Muria, namun disaring-saring kebenarannya. Meskipun demikian, teguran amarah telah dicurahkannya kepada Nawangsih yang telah dengan santun membantahnya.

Demi kewibawaan pribadi Sunan maka pada suatu hari Sunan Muria memanggil Rinangku sendirian. Setelah gaga) memperoleh pengakuan dari Rinangku, berkatalah Sunan dengan lembutnya, “Baiklah, Rinangku. Mulai besok engkau bertugas menunggu burung-burung yang memakan padi di sawah Dukuh Masin. Janganlah engkau kembali sebelum aku sendiri memanggilmu.”

Rinangku yang selalu patuh terhadap perintah sang Guru segera berkemas dan melaksanakan tugas itu. Selama berhari-hari dia berada di sebuah gubuk di tengah sawah untuk menyaksikan ribuan burung memakan padi.

Pada suatu siang, datanglah Sunan Muria beserta Nawangsih dan sejumlah santri hendak mengajak pulang Rinangku yang memang tak terbukti kesalahannya. Namun, alangkah terkejutnya Sunan Muria menyaksikan padinya hampir habis dimakan ribuan burung.

“Hai, Rinangku, mengapa engkau tidak mengusir burung-burung itu? Kalau demikian, padiku tak bakal bisa dipanen,” kata Sunan Muria dengan nada amarah yang tertahan. Akan tetapi, dengan santun Rinangku menjawab, “Bapak Guru, apakah salahku karena perintah yang kudengar ialah menjaga burung-burung yang memakan padi. Kalau sekarang rusak, izinkanlah Rinangku memulihkannya.”

Dalam sekejap saja, padi yang rusak itu sudah pulih kembali dan siap untuk dipanen. Namun, hal itu justru menjadikan amarah Sunan Muria tak terbendung lagi karena merasa dihinakan oleh seorang muridnya.

“Rinangku, engkau memang seorang santri yang hebat. Tetapi, tidak pantaslah engkau berpamer di hadapan gurumu sendiri. Sekarang cobalah engkau terima kerisku ini!”

Kemudian, dihunusnya keris di pinggang dengan maksud menguji ketabahan hati Rinangku. Tiba-tiba, terjadilah peristiwa menyedihkan yang sama sekali tak diharapkan siapa pun. Keris sakti di tangan Sunan Muria itu pun melesat dan menembus dada Rinangku. Terkejutlah hati Sunan Muria, dan bergegaslah beliau hendak menyelamatkan jiwa Rinangku. Namun, takdir sudah berlaku bagi Rinangku yang harus tewas di tangan gurunya sendiri.

Nawangsih tak kalah kagetnya menyaksikan kejadian itu. Dengan sedih, is segera merangkul tubuh Rinangku yang dicintainya. Sesaat kemudian, keris yang masih menghunjam dada Rinangku itu pun menyentuh perut Nawangsih hingga tewaslah bersama sang kekasih.

Sejenak, Sunan Muria termangu menyaksikan peristiwa itu, kemudian segera memerintahkan para pengiringnya untuk mengubur jenazah Nawangsih dan Rinangku sebagaimana mestinya. Kelak, makam sepasang muda-mudi yang bercinta itu dikenal dengan sebutan Punden Kramat Masin yang berarti sebuah makam keramat di Dukuh Masin.

Di sekitar makam itu tumbuhlah pohon-pohon jati yang besar-besar, tetapi tak pernah dimanfaatkan oleh masyarakat karena dianggap keramat. Konon, pohon­pohon jati itu berasal dari kata-kata Sunan Muria yang merasa heran menyaksikan para pengiring jenazah itu hanya terdiam kaku. “Wong layat kok pating jenggelek kaya jati,” kata Sunan Muria dalam bahasa Jawa. Maksudnya ialah kenapa orang mengiring jenazah pada terdiam kaku seperti pohon jati?

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s