Wukir Rahtawu

Wukir Rahtawu
oleh: Ki Sondong Mandali

Wukir Rahtawu merupakan gugus perbukitan Muria yang berada di Kabupaten kudus. Jawa Tengah. Menurut mitos, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi
Manumayasa sampai kepada Begawan Abiyasa yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa. Menurut cerita babad dan parwa, konon leluhur raja-raja Jawa
merupakan keturunan dinasti Bharata juga. Sebuah misteri yang membingungkan memang.

Di Rahtawu terdapat banyak “petilasan pertapaan” yang diyakini dahulu kala memang benar-benar merupakan tempat bertapanya “para suci” yang oleh penduduk setempat disebut “Eyang”. Diantaranya :

Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu.
Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Salaka, dukuh Semliro, desa Rahtawu.
Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung “Abiyasa”, ada yang menyebut “Sapta Arga”.

Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng gunung “Sangalikur”, di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening) dan
sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya.

Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung “Sangalikur” sebelah timur.

Eyang Lokajaya (Guru Spirituil Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga sebelum bertaubat), di Rahtawu.

Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun Semliro.

Semua “petilasan” (kecuali makam Eyang Mada) merupakan “batu datar” yang iperkirakan sebagai tempat duduk ketika bertapa (meditasi, semadi). Sayangnya, semua petilasan tersebut telah dibuatkan bangunan dan dibuat sedemikian rupa “sakral” dengan diberi bilik yang tertutup dan dikunci. Pembukaan tutup dilakukan setiap bulan Suro (Muharam) tanggal 1 s/d 10.

Di setiap petilasan dibuatkan suatu bilik khusus untuk melakukan “ritual sesaji” dengan bunga dan pembakaran dupa. Juga disediakan suatu ruangan cukup luas untuk para pengunjung beristirahat dan menunggu giliran untuk melakukan “ritual sesaji” maupun “ngalap berkah” sambil tiduran dan ? kerokan.

Di Rahtawu pengaruh peradaban Hindu, Buddha dan Islam tidak nampak jelas. Tidak ada jejak berupa bangunan peribadatan (candi) Hindu dan Buddha. Bahkan tidak ada
arca maupun ornamen bangunan yang terbuat dari batu berukir sebagaimana ditemukan di Dieng, Trowulan, Lawu, dan tempat-tempat lainnya di Jawa. Bangunan peribadatan berupa masjid ataupun langgar (mushalla) merupakan bangunan baru buatan jaman ini. Maka sesungguhnya mengundang suatu pemikiran, situs peradaban apakah di Rahtawu tersebut ? Meskipun semua “petilasan pertapaan” berkaitan dengan nama-nama tokoh pewayangan (Mahabharata-Hindu), namun di Rahtawu ditabukan untuk mengadakan pagelaran wayang. Konon cerita para penduduk setempat, pernah ada yang melanggar larangan tersebut, maka datang bencana angin ribut yang menghancurkan rumah dan dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut. Namun untuk mendengarkan siaran wayang kulit dari pemancar radio, kok tidak apa-apa.

Samar-samar terbersit pemahaman di benak penulis akan kecerdikan dan ketegaran Jawa dalam berinteraksi dengan berbagai peradaban pendatang di Rahtawu, sebagai berikut :

Di puncak tertinggi (gunung “Sangalikur”) adalah “petilasan pertapaan Sang Hyang Wenang”. Tempatnya sepi kering tidak ada apa-apa alias suwung (tan kena
kinayangapa). Dibawahnya ada “petilasan pertapaan” Resi Manik Manumayasa, Puntadewa (Darmakusuma), Nakula Sadewa, dan Bathara Ismaya (Semar). Tokoh-tokoh
tersebut merupakan simbul personifikasi manusia titisan dewa yang berwatak selalu menjalankan “laku darma” pengabdian kepada Hyang Maha Agung. Atau mengajarkan “laku-urip” yang religius. Bahkan Sang Hyang Wenang merupakan salah satu nama dari sesembahan (realitas tertinggi) Jawa. Bathara Ismaya merupakan derivate (tajalli, emanasi) awal dari Sang Hyang Wenang, menggambarkan cangkok atau emban (plasma kalau diibaratkan pada sel hidup). Sedang Eyang Manik Manuyasa kiranya merupakan nama lain dari Bathara Manikmaya, yang juga merupakan derivate (tajalli, emanasi) awal Sang Hyang Wenang, menggambarkan kembang, permata atau wiji/benih (inti kalau
diibaratkan sel hidup). Sel hidup selalu terdiri dari Inti dan Plasma yang tidak bisa dipisahkan. Demikian pula kiranya konsep Jawa tentang “Urip” selalu terdiri
dari “Manikmaya” dan “Ismaya” yang juga tidak bisa dipisahkan.

Puntadewa dan Nakula-Sadewa adalah tiga satria Pandawa yang tidak pernah berperang. Puntadewa simbul kesabaran, Nakula kecerdasan, dan Sadewa kebijaksanaan. Bahkan kemudian dalam mitologi Jawa, Sadewa adalah satria yang mampu meruwat Bethari Durga yang serba jahat menjadi Bethari Uma yang welas-asih.
Petilasan ketiga satria Pandawa tersebut ditempatkan di gunung “Sangalikur” dibawah Sang Hyang Wenang, Bethara Manikmaya dan Bethara Ismaya, melambangkan
bahwa kesempurnaan manusia di hadapan Tuhan (sesembahan) adalah kesadaran akan “sejatining urip”, yaitu yang merupakan gabungan Puntadewa (sabar), Nakula cerdik-pandai) dan Sadewa (arif bijaksana).

Puncak kedua di “gunung Abiyasa” merupakan “petilasan pertapaan” Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara. Keduanya merupakan maharesi yang tertinggi “kawruhnya”.
Tempatnya juga sepi kering tidak ada apa-apa. Bahkan jalan menuju tempat itu hanya ada satu. Untuk naik dan turun melalui jalan yang sama. Sepertinya menyiratkan
bahwa jalan menuju puncak ketinggian “harkat spirituil manusia” yang bisa dicapai adalah sebagai Resi Abiyasa dan Resi Palasara yang hidup sunyi sepi namun tidak meninggalkan keramaian dunia. Palasara dan Abiyasa konon merupakan leluhur Pandawa. Meskipun hidup sebagai resi (pendeta), namun keduanya terlibat langsung dengan realitas hiup manusia di dunia. Diantaranya terlibat perkara seks dalam arti untuk regenerasi (berketurunan) manusia. Menurut ceritanya pula, keduanya tidak menempati “etika agama” dalam hal bercinta-asmara. Dan lebih kepada naluri alamiah yang terekayasa oleh kebutuhan. Palasara bercinta-asmara dengan Dewi Lara Amis (Durgandini) di dalam perahu oleh akibat dorongan nafsu birahi keduanya, hingga lahir Abiyasa (baik) dan saudara-saudaranya (jahat). Abiyasa pun melakukan cinta-asmara dengan janda
adiknya oleh kebutuhan Hastinapura akan generasi penerus. Maka petilasan Palasara dan Abiyasa tidak dalam satu gunung dengan Sang Hyang Wenang mengandung maksud, bahwa sesungguhnya untuk mencapai “kesempurnaan harkat kemanusiaan” bisa dicapai juga dengan memenuhi darma sebagai manusia secara alamiah, meskipun darma tersebut mungkin kurang sejalan dengan “norma kesusilaan” dan “etika keagamaan”.

Petilasan Eyang Sakri, Eyang Sakutrem berada di kaki gunung yang rendah. Keduanya juga maharesi leluhur Pandawa. Petilasan pertapaannya berada dekat denga mata air (sendang), artinya lebih dekat berderajat manusia katimbang dewa.
Petilasan Bathara Narada dan Bathara Guru di Joggring Salaka (kahyangan para dewa) yang juga berada di kaki gunung seolah menyiratkan pandangan Jawa, bahwa
sesungguhnya dewa-dewa juga titah dari Yang Maha Kuasa sama dengan manusia. Dewa juga mempunyai kewajiban ikut terlibat dalam mengatur keharmonisan semesta
(memayu hayuning bawana). Artinya, di Jawa, Bathara Guru dan Bathara Narada bukan wajib disembah tetapi disetarakan dengan manusia.
Begitulah penangkapan samar-samar penulis tentang adanya petilasan pertapaan para Eyang (Hyang) di Rahtawu. Untuk petilasan Eyang Lokajaya dan Makam Eyang Mada, adalah suatu “punden” baru yang tidak ada hubungannya dengan “petilasan pertapaan” paya Hyang dan Resi.

Adapun bagaimana sejarah Rahtawu masih merupakan misteri. Siapa pula yang menetapkan daerah itu menjadi petilasan pertapaan, juga masih sulit untuk didapatkan
keterangan. Yang jelas sudah sejak jaman kuno Rahtawu dianggap sebagai tempat petilasan pertapaan “para suci”. Mungkin dulunya mirip “Sungai Gangga” di India.
Atau semua itu adalah rekayasa para leluhur Jawa untuk lebih meyakinkan bahwa yang menciptakan Mahabharata, Resi Wiyasa, adalah Abiyasa yang tinggalnya di Rahtawu, Jepara. Entahlah !
Kenyataan yang ada sekarang ini, Rahtawu menjadi tempat untuk kepentingan “ngalap berkah” yang bermacam-macam. Caranya juga bermacam-macam pula.
Nuansa spirituil religius Jawa sudah berbaur dengan laku-budaya adat yang oleh berbagai pihak dianggap klenik, tahayul dan syirik.

Perbukitan Muria memerlukan kajian mendalam. Ilmiah maupun spirituil untuk menguak misterinya. Di tempat itu juga ada makam Sunan Muria (salah satu Wali Sanga)
yang dikeramatkan pula oleh banyak orang Jawa yang muslim. Maka dengan demikian di Muria ada dua tempat wisata spirituil, Makam Sunan Muria (Islam) dan Petilasan Pertapaan Rahtawu (Kejawen). Menurut yang “muslim saleh”, menyatakan bahwa Rahtawu tempat berkumpulnya jin dan syaiton. Sebaliknya, kalangan “kejawen” menyatakan kalau makam Eyang Mada dan makam keramat lainnya (sesakti apapun yang dimakamkan) cuma kuburan manusia biasa. Lhoh kok !

Begitulah kenyataan pergulatan antar peradaban di Jawa baru mencapai tahap saling menganggap klenik, tahayul dan syirik bagi pihak yang tidak sealiran. Memelas !

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s